Nama : Lasmini
Nim : 11901264
Laporan bacaan buku
Identitas buku:
1. Judul : Model kultur sekolah berbasis multiple
intellegence
2. Penulis : dr. H., Kamarudin Hasan.
3. Penerbit : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA)
Al Gazali Barru
4. Cetakan : 2
5. Tebal : 114
1. Pengertian Kultur Sekolah
Menurut Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 72) kebudayaan
adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan
manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar.
Dapat disimpulkan, kebudayaan adalah sebagai keseluruhan
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan
menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi
tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu
masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada
anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan
melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam
bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang
dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai
suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan
anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang
berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya
sama.
Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi
dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya kesatuan,
stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial. Budaya
sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon perubahan
tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan sekolah.
Jadi kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas
internal-latar, lingkungan, suasana, rasa, sifat dan iklim yang dirasakan oleh
seluruh orang. Kultur sekolah merupakan kultur organisasi dalam konteks persekolahan,
sehingga kultur sekolah kurang lebih sama dengan kultur organisasi pendidikan.
Kultur sekolah dapat diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang
tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sebuah sekolah.
Biasanya kultur sekolah ditampilkan dalam bentuk bagaimana kepala sekolah, guru
dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, belajar dan berhubungan satu sama
lainnya sehingga menjadi tradisi sekolah.
2. Karakteristik Kultur Sekolah
Kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja
di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau
aktif, positif, dan profesional. Sekolah perlu memperkecil ciri tanpa kultur
anarkhis, negatif, beracun, bias dan dominatif. Kultur sekolah sehat memberikan
peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara
efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu
terus berkembang.
Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk
dikembangkan antara lain :
1. Kultur yang terkait prestasi/kualitas : (a) semangat
membaca dan mencari referensi; (b) keterampilan siswa mengkritisi data dan
memecahkan masalah hidup; (c) kecerdasan emosional siswa; (d) keterampilan
komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis; (e) kemampuan siswa
untuk berpikir obyektif dan sistematis.
2. Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial : (a)
nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan; (b) nilai-nilai keterbukaan; (c)
nilai-nilai kejujuran; (d) nilai-nilai semangat hidup; (e) nilai-nilai semangat
belajar; (f) nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain; (g)
nilai-nilai untuk menghargai orang lain; (h) nilai-nilai persatuan dan
kesatuan; (i) nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif; (j)
nilai-nilai disiplin diri; (k) nilai-nilai tanggung jawab; (l) nilai-nilai
kebersamaan; (m) nilai-nilai saling percaya; (n) dan nilai-nilai yang lain
sesuai kondisi sekolah ( Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003:
25-26).
Jadi dalam hal ini dinamika kultur sekolah adalah budaya
dalam kehidupan sekolah yang berjalan secara terus menerus yang dapat merubah
pola perilaku. Dinamika kultur juga dapat menhadirkan konflik, namun dalam hal
ini jika sekolah dapat menangani secara bijak konflik tersebut dapat menajadi
perubahan yang positif.
3. Identifikasi Kultur Sekolah
Kepala sekolah sebagai sentral pengembangan kultur sekolah
harus dapat mejadi contoh dalam berinteraksi di sekolah. Ia adalah figur yang
memiliki komitmen terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan, dan
selalu bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, ramah, dan menghargai
pendapat orang lain. Selain itu, kepala sekolah merupakan model bagi warga
sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 11).
a. Kultur Positif, Negatif, dan Netral
Kultur sekolah ada yang bersifat postitif, negatif, dan
netral. Kultur yang bersifat positif adalah kultur yang pro (mendukung)
peningkatankualitas pendidikan. Sebagai contoh kerjasama dalam mencapai
prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi, komitmen terhadap belajar,
saling percaya antar warga sekolah, menjaga sportivitas dan sebagainya.
Kultur yang bersifat negatif adalah kultur yang kontra
(menghambat) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh banyak jam
pelajaran yang kosong, siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya atau
mengemukakan pendapat, warga sekolah saling menjatuhkan, persaingan yang tidak
sehat di antara para siswa, perkelahian antar siswa atau antar sekolah,
penggunaan minuman keras dan obat-obat terlarang, pornografi dan sebagainya.
Sedangkan kultur yang bersifat netral adalah kultur yang tidak mendukung maupun
menghambat peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh arisan keluarga
sekolah, seragam guru, dan sebagainya.
b. Artifak, Nilai, Keyakinan, dan Asumsi
Kultur sekolah merupakan aset yang bersifat abstrak,
bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak sama antara
satu sekolah dengan sekolah yang lain.
Dalam kaitannya dengan kebutuhan pengembangan kultur sekolah,
yang perlu dipahami bahwa kultur hanya dapat dikenali melalui pencerminannya
pada berbagai hal yang dapat diamati disebut dengan artifak.
Artifak ini dapat berupa:
1) Perilaku verbal: ungkapan lisan atau tulis dalam
bentukkalimat dan kata-kata.
2) Perilaku non verbal: ungkapan dalam tindakan.
3) Benda hasil budaya: arsitektur, eksterior dan interior,
lambang, tata ruang, meblair, dan sebagainya. Dibalik artifak itulah
tersembunyi kultur yang dapat berupa: 1) Nilai-nilai: mutu, disiplin,
toleransi, dan sebagainya. 2) Keyakinan: tidak kalah dengan sekolah lain bila
mau bekerja keras. 3) Asumsi: semua anak dapat menguasai bahan pelajaran, hanya
waktu yang diperlukan berbeda.
c. Peran Kepala Sekolah
Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam
upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam
komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks
dunia kerja maupun pekerjaan, tetapi juga memperhatikan masalah politis,
kultural, dan perubahan sosial yang berlangsung Perhatian ini sejalan dengan
era yang ditandai dengan perubahan-perubahan dramatis dalam berbagai bidang
kehidupan, yang tak terelakkan lagi berpengaruh pada pendidikan. Di era
perubahan ini, kepemimpinan sangat penting dalam memandu peningkatan prestasi
dan perkembangan sekolah. Untuk membangun kultur, kepala sekolah harus memberi
perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tak tampak
dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah.
Tugas kepala sekolah adalah menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur
yang diperlukan untuk menguatkan sikap yang efektif dalam segala hal yang
dikerjakan di sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar